Cahaya di Ujung Timur: Kisah Seorang Guru di Pedalaman Papua


Cahaya di Ujung Timur

Kisah saya mengajar di pedalaman Papua

Saya masih ingat dengan jelas hari pertama saya menginjakkan kaki di pedalaman Papua. Di hadapan saya terbentang alam yang indah, tetapi juga realitas kehidupan yang penuh keterbatasan. Saat itu saya sadar, keputusan saya untuk mengajar di tempat ini bukanlah keputusan yang mudah. Namun saya percaya, inilah panggilan Tuhan atas hidup saya.

Mengajar di pedalaman Papua bukan sekadar pekerjaan bagi saya. Ini adalah bentuk ketaatan, sebuah pelayanan yang Tuhan percayakan. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, saya belajar makna melayani dengan hati yang utuh.

Perjalanan dan Pergumulan yang Saya Jalani

Setiap hari saya harus menempuh perjalanan yang tidak ringan. Berjalan kaki menyusuri hutan, menyeberangi sungai, dan menghadapi cuaca yang sering kali tidak bersahabat sudah menjadi bagian dari keseharian saya.

“Baiklah kita jangan jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” — Galatia 6:9

Murid-Murid yang Menguatkan Iman Saya

Anak-anak yang saya ajar datang ke sekolah dengan segala keterbatasan, tetapi semangat belajar dan senyum polos mereka menjadi kekuatan tersendiri bagi saya.

“Ini aku, utuslah aku!” — Yesaya 6:8
Saya mungkin hanya menjadi terang kecil di tempat yang jauh dan sederhana. Namun saya percaya, kasih karunia Tuhan selalu cukup.

0 Komentar